Gejala-gejala Klinis
Adapun manifestasi klinisnya yaitu :
Adapun manifestasi klinisnya yaitu :
2. Gelembung yang berisi cairan
3. Kemerahan pada kulit
4. Luka lecet
5. Bintil padat atau bintil bernanah
yang kemerahan dengan rambut di tengahnya.
6. Rasa nyeri sendi
7. Mengigil
8. Sakit kepala
9. Muntah
10. Demam
11. Kelesuan
12. Gatal
13. Rasa terbakar
Pemeriksaan
Fisik
1. Pada inspeksi terlihat kemerahan pada
kulit, gelembung berisi air, luka lecet, lepuh dan bintil bernanah yang
kemerahan dengan rambut di tengahnya.
2. Pada palpasi ditemukan beberapa
penderita suhu tubuhnya meningkat, terasa nyeri saat di tekan pada daerah yang
terkena infeksi dan teraba infiltrat di sub kutan.
Pemeriksaan
Diagnostik
1. Pemeriksaan darah tepi.
2. Dermatografisme putih. Penggoresan
pada kulit normal akan menimbulkan tiga respon, yakni berturut-turut akan
terlihat garis merah ditempat penggoresan selama 15 detik, warna merah
disekitarnya selama beberapa detik, dan edema timbul setelah beberapa menit.
Penggoresan pada pasien yang atopik akan bereaksi berlainan. Garis merah tidak
disusul warna kemerahan, tetapi kepucatan selama 2 detik sampai 5 menit,
sedangkan edema tidak timbul.
3. Percobaan histamin. Jika histamin
fosfat disuntikkan pada lesi, eritema akan berkurang dibandingkan orang lain
sebagai kontrol. Kalau obat tersebut disuntikkan parentral, tampak eritema yang
bertambah pada kulit yang normal.
4. Kultur dan tes resistensi dilakukan
pada kasus-kasus kronis dan sukar sembuh. Hasil tes resistensi hanya bersifat
menyokong, in vito tidak selalu sesuai dengan in vitro.
5. Pemeriksaan langsung. Kerokan kulit
atau usapan mukokutan diperiksa dengan pewarna gram, terlihat gambar gram
positif, sel ragi, blastospora atau hifa semu.
6. Biopsi eksisional dan diperiksa
dengan pewarnaan HE.
Penatalaksanaan
Pada penatalaksaan umum faktor higiene
bayi dan lingkungan harus diperhatikan.
1. Menghindari faktor pencetus/
predisposisi
2. Diberikan kompres terbuka.
3. Sistemik
4. Penisilin G prokain dan
semisintetiknya
- Penisilin G prokain 1,2 juta unit per
hari i.m. dosis anak 10.000 unit/kgBB/hari.
Ampisilin 4 x 500 mg, 1 jam sebelum
makan. Dosis anak 50-100 mg/kgBB/hari dibagi dalam 3 dosis.
- Amoksisilin 4 x 500 mg, dapat diberikan
setelah makan. Dosis anak 25-50 mg/kgBB/hari dibagi dalam 3 dosis.
- Golongan β-laktam, contohnya oksasilin,
kloksasilin, dikloksasilin, flukoksasilin. Dosis kloksasilin 3 x 250 mg per
hari sebelum makan. Dosis flukloksasilin untuk anak-anak adalah 6,25-12,5
mg/kgBB/hari dibagi dalam 4 dosis.
5. Linkomisin dan klindamisin. Dosis
linkomisin 3 x 500 mg sehari. Klindamisin 4 x 150 mg sehari per oral karena
diabsorpsi lebih baik. Dosis linkomisin untuk anak-anak adalah
30-60mg/kgBB/hari dibagi dalam 3-4 dosis, sedangkan klindamisin 8-16
mg/kgBB/hari atau sampai 20 mg/kgBB/hari pada infeksi berat, dibagi dalam 3-4
dosis
6. Eritromisin 4 x 500 mg
sehari per oral. Efektivitasnya kurang dibandingkan linkomisin/klindamisin.
Eritromisin cepat menyebabkan resistensi dan sering menimbulkan gangguan pada
traktus gastrointestinal, antara lain sering memberikan rasa tidak enak di
lambung. Dosis anak 30-50mg/kgBB/hari dibagi dalam 4 dosis.
7. Sefalosforin misalnya
sefadroksil 2 x 500 mg sehari per oral. Dosis untuk anak 25-50 mg/kgBB/hari
dibagi dalam 2 dosis.
8. Tablet nistatin untuk
menghilangkan infeksi fokal dalam saluran cerna, obat ini tidak diserap oleh
usus.
9. Antihistamin sebagai
kompetitif histamin. Dapat digunakan golongan sedasi (klasik) maupun nonsedasi
(AH baru).
Topikal
1. Bentuk salep atau krim kombinasi
basitrasin dan neomisin, kortikosteroid.
2. Solusio mupirosin 5 %
3. Garam fusidat 2 %
4. Pada lesi yang eksudatif atau penuh
krusta perlu diberikan kompres terbuka, contohnya larutan permanganas kalikulus
1/5000, larutan rivanol 1 % dan yodium povidon 7,5 % yang dilarutkan 10 kali.
Yang terakhir ini lebih efektif, hanya pada sebagian kecil mengalami
sensitisasi karena yodium. Rivanol mempunyai kekurangan karena mengiritasi
kulit.
5. Larutan ungu gentian ½-1% untuk
selaput lendir, 1-2% untuk kulit, dioleskan sehari 2 kali selama 3
hari.Nistatin berupa krim, salep dan emulsi.Amfoterisin B
6. Grup azol antara lain :
Mikanazol 2% berupa krim atau bedak.
Klotrimazol 1% berupa bedak, larutan dan
krim.
Tiokonazol, bufanazol, isikonazol.
Siklopirokzolamin 1 % larutan, krim.
Antimikotik lain yang berspektrum luas.
7. Belerang endap (sulfur presipitatum)
4-20% dalam bentuk salep atau krim. Pada bayi sulfur presipitatum 5% dalam
minyak sangat aman dan efektif. Kekurangannya adalah pemakaian tidak boleh
kurang dari 3 hari karena tidak efektif terhadap stadium telur, berbau,
mengotori pakaian dan dapat menimbulkan iritasi.Emulsi benzil-benzoat 20-25%
efektif terhadap semua stadium, diberikan setiap malam selama 3 kali. Obat ini
sulit diperoleh, sering menimbulkan iritasi dan kadang-kadang makin gatal
setelah dipakai.
8. Krotamiton 10% dalam krim atau losio
mempunyai efek sebagai antiskabies dan antigatal. Harus dijauhkan dari mata,
mulut dan uretra. Krim (eurax) hanya efektif pada 50-60% pasien. Digunakan
selama 2 malam berturut-turut dan dibersihkan selama 24 jam pemakaian terakhir.
9. Krim permetin 5% merupakan obat yang
paling efektif dan aman karena sangat mematikan untuk parasi S. Scabiei dan
memiliki toksisitas rendah pada manusia.
Pencegahan
Cara mencegah penyakit kulit ini yaitu
cukup dengan menjaga higiene kulit misalnya memandikan secara teratur, yaitu
dua kali sehari, rajin mengganti popok, memilih bahan pakaian yang lembut
seperti bahan katun yang gampang menyerap keringat, mencegah kontak dengan
penderita serta menjaga udara kamar agar tetap sejuk dan nyaman.
Ruangan dengan ventilasi udara cukup
sangat dianjurkan, terutama di kota-kota besar yang panas dan pengap. Usahakan
kamar balita diberi jendela lebar sehingga pertukaran udara dari luar ke dalam
ruangan lancar.






