Gejala-gejala Klinis
Adapun manifestasi klinisnya yaitu :
1. Lepuh
2. Gelembung yang berisi cairan
3. Kemerahan  pada kulit
4. Luka lecet
5. Bintil padat atau bintil bernanah yang kemerahan dengan rambut di tengahnya.
6. Rasa nyeri sendi
7. Mengigil
8. Sakit kepala
9. Muntah
10. Demam
11. Kelesuan
12. Gatal
13. Rasa terbakar

Pemeriksaan Fisik
1. Pada inspeksi terlihat kemerahan pada kulit, gelembung berisi air, luka lecet, lepuh dan bintil bernanah yang kemerahan dengan rambut di tengahnya.
2. Pada palpasi ditemukan beberapa penderita suhu tubuhnya meningkat, terasa nyeri saat di tekan pada daerah yang terkena infeksi dan teraba infiltrat di sub kutan.

Pemeriksaan Diagnostik
1. Pemeriksaan darah tepi.
2. Dermatografisme putih. Penggoresan pada kulit normal akan menimbulkan tiga respon, yakni berturut-turut akan terlihat garis merah ditempat penggoresan selama 15 detik, warna merah disekitarnya selama beberapa detik, dan edema timbul setelah beberapa menit. Penggoresan pada pasien yang atopik akan bereaksi berlainan. Garis merah tidak disusul warna kemerahan, tetapi kepucatan selama 2 detik sampai 5 menit, sedangkan edema tidak timbul.
3. Percobaan histamin. Jika histamin fosfat disuntikkan pada lesi, eritema akan berkurang dibandingkan orang lain sebagai kontrol. Kalau obat tersebut disuntikkan parentral, tampak eritema yang bertambah pada kulit yang normal.
4. Kultur dan tes resistensi dilakukan pada kasus-kasus kronis dan sukar sembuh. Hasil tes resistensi hanya bersifat menyokong, in vito tidak selalu sesuai dengan in vitro.
5. Pemeriksaan langsung. Kerokan kulit atau usapan mukokutan diperiksa dengan pewarna gram, terlihat gambar gram positif, sel ragi, blastospora atau hifa semu.
6. Biopsi eksisional dan diperiksa dengan pewarnaan HE.

Penatalaksanaan
Pada penatalaksaan umum faktor higiene bayi dan lingkungan harus diperhatikan.
1. Menghindari faktor pencetus/ predisposisi
2. Diberikan kompres terbuka.
3. Sistemik
4. Penisilin G prokain dan semisintetiknya
- Penisilin G prokain 1,2 juta unit per hari i.m. dosis anak 10.000 unit/kgBB/hari.
Ampisilin 4 x 500 mg, 1 jam sebelum makan. Dosis anak 50-100 mg/kgBB/hari dibagi dalam 3 dosis.
- Amoksisilin 4 x 500 mg, dapat diberikan setelah makan. Dosis anak 25-50 mg/kgBB/hari dibagi dalam 3 dosis.
- Golongan β-laktam, contohnya oksasilin, kloksasilin, dikloksasilin, flukoksasilin. Dosis kloksasilin 3 x 250 mg per hari sebelum makan. Dosis flukloksasilin untuk anak-anak adalah 6,25-12,5 mg/kgBB/hari dibagi dalam 4 dosis.
5. Linkomisin dan klindamisin. Dosis linkomisin 3 x 500 mg sehari. Klindamisin 4 x 150 mg sehari per oral karena diabsorpsi lebih baik. Dosis linkomisin untuk anak-anak adalah 30-60mg/kgBB/hari dibagi dalam 3-4 dosis, sedangkan klindamisin 8-16 mg/kgBB/hari atau sampai 20 mg/kgBB/hari pada infeksi berat, dibagi dalam 3-4 dosis
6. Eritromisin 4 x 500 mg sehari per oral. Efektivitasnya kurang dibandingkan linkomisin/klindamisin. Eritromisin cepat menyebabkan resistensi dan sering menimbulkan gangguan pada traktus gastrointestinal, antara lain sering memberikan rasa tidak enak di lambung. Dosis anak 30-50mg/kgBB/hari dibagi dalam 4 dosis.
7. Sefalosforin misalnya sefadroksil 2 x 500 mg sehari per oral. Dosis untuk anak 25-50 mg/kgBB/hari dibagi dalam 2 dosis.
8. Tablet nistatin untuk menghilangkan infeksi fokal dalam saluran cerna, obat ini tidak diserap oleh usus.
9. Antihistamin sebagai kompetitif histamin. Dapat digunakan golongan sedasi (klasik) maupun nonsedasi (AH baru).

Topikal
1. Bentuk salep atau krim kombinasi basitrasin dan neomisin, kortikosteroid.
2. Solusio mupirosin 5 %
3. Garam fusidat 2 %
4. Pada lesi yang eksudatif atau penuh krusta perlu diberikan kompres terbuka, contohnya larutan permanganas kalikulus 1/5000, larutan rivanol 1 % dan yodium povidon 7,5 % yang dilarutkan 10 kali. Yang terakhir ini lebih efektif, hanya pada sebagian kecil mengalami sensitisasi karena yodium. Rivanol mempunyai kekurangan karena mengiritasi kulit.
5. Larutan ungu gentian ½-1% untuk selaput lendir, 1-2% untuk kulit, dioleskan sehari 2 kali selama 3 hari.Nistatin berupa krim, salep dan emulsi.Amfoterisin B
6. Grup azol antara lain :
Mikanazol 2% berupa krim atau bedak.
Klotrimazol 1% berupa bedak, larutan dan krim.
Tiokonazol, bufanazol, isikonazol.
Siklopirokzolamin 1 % larutan, krim.
Antimikotik lain yang berspektrum luas.
7. Belerang endap (sulfur presipitatum) 4-20% dalam bentuk salep atau krim. Pada bayi sulfur presipitatum 5% dalam minyak sangat aman dan efektif. Kekurangannya adalah pemakaian tidak boleh kurang dari 3 hari karena tidak efektif terhadap stadium telur, berbau, mengotori pakaian dan dapat menimbulkan iritasi.Emulsi benzil-benzoat 20-25% efektif terhadap semua stadium, diberikan setiap malam selama 3 kali. Obat ini sulit diperoleh, sering menimbulkan iritasi dan kadang-kadang makin gatal setelah dipakai.
8. Krotamiton 10% dalam krim atau losio mempunyai efek sebagai antiskabies dan antigatal. Harus dijauhkan dari mata, mulut dan uretra. Krim (eurax) hanya efektif pada 50-60% pasien. Digunakan selama 2 malam berturut-turut dan dibersihkan selama 24 jam pemakaian terakhir.
9. Krim permetin 5% merupakan obat yang paling efektif dan aman karena sangat mematikan untuk parasi S. Scabiei dan memiliki toksisitas rendah pada manusia.

Pencegahan
Cara mencegah penyakit kulit ini yaitu cukup dengan menjaga higiene kulit misalnya memandikan secara teratur, yaitu dua kali sehari, rajin mengganti popok, memilih bahan pakaian yang lembut seperti bahan katun yang gampang menyerap keringat, mencegah kontak dengan penderita serta menjaga udara kamar agar tetap sejuk dan nyaman.

Ruangan dengan ventilasi udara cukup sangat dianjurkan, terutama di kota-kota besar yang panas dan pengap. Usahakan kamar balita diberi jendela lebar sehingga pertukaran udara dari luar ke dalam ruangan lancar.

Infestasi Parasit
Pada infestasi biasanya penyebab penyakit tidak masuk ke dalam aliran darah tapi hanya ke dalam lapisan kulit. Di antara berbagai infestasi parasit kulit yang mungkin dijumpai pada bayi adalah skabies atau gudik, yaitu penyakit kulit yang disebabkan infestasi dan reaksi sensitisasi terhadap tungau sarcoptes scabiei varian hominis. Betina yang hamil bersarang dalam lapisan tanduk dari epidermis.

Di sini ia bertelur beberapa butir setiap hari yang menetas mengeluarkan banyak pinjal muda yang makan dalam orifisium dari glandula skretoris. Sarang tampak sebagai garis putih dengan tepi yang tidak teratur, pada akhir sarang ini terdapat tempat pinjal. Ciri-cirinya, yaitu gatal di waktu malam.

Gudik biasanya menyerang orang yang hidup di lingkungan padat dan bersesakan, misalnya asrama atau panti. Kelainan ini terjadi pada kulit dengan lapisan tanduk yang tipis dan relatif lembab seperti di sela-sela jari, lipat ketiak, puting susu, pusar, perut bawah, kemaluan.

Umumnya pipi, leher dan kepala bebas lesi ( bebas dari kelainan ) kecuali bayi yang masih menyusu ASI. Karena, ketika menyusu, pipi bayi terkena payudara penderita. Terlebih lagi, karena daya tahan bayi masih lemah hingga gudik ini bisa meluas ke mana-mana termasuk leher dan kepalanya.

Infeksius (menular) disebabkan oleh bakteri, virus, jamur dan infestasi oleh parasit.

Infeksi Kuman

Penyakit kulit karena infeksi bakteri yang sering diterdapat pada bayi disebut pioderma. pioderma disebabkan oleh bakteri gram positif staphyllococcus, terutama S. aureus dan streptococcus atau keduanya. Faktor predisposisinya yaitu higiene yang kurang, menurunnya daya tahan tubuh (mengidap penyakit menahun, kurang gizi, keganasan/kanker dan sebagainya) atau adanya penyakit lain di kulit yang menyebabkan fungsi perlindungan kulit terganggu.

Terdapat beberapa jenis pioderma, yaitu:

1. Impetigo
Impetigo merupakan infeksi kulit yang disebabkan oleh stafilokokus aurea atau kadang-kadang oleh streptokokus dan hanya terjadi pada lapisan kulit jangat. Biasanya tak disertai gejala konstitusi (gejala infeksi pada tubuh manusia seperti demam, nyeri, lesu,dan lainnya). Pada kulit penderita terlihat lepuh dan gelembung yang berisi cairan. Penyakit ini mudah menular pada anak lain atau dirinya sendiri.

Impetigo ada 2, yaitu :
a. Impetigo krustosa/kontagiosa
(istilah awamnya, cacar madu) merupakan kelainan yang terjadi di sekitar lubang hidung dan mulut. Ciri-cirinya, yaitu kemerahan kulit dan lepuh yang cepat memecah sehingga meninggalkan keropeng tebal warna kuning serupa madu. Bila keropeng dilepaskan, terlihat luka lecet di bawahnya.

b. Impetigo bulosa/vesiko bulosa
(cacar monyet atau cacar api) yang sering terjadi di ketiak, dada, dan punggung. Ciri-cirinya yaitu kemerahan di kulit dan gelembung-gelembung (seperti kulit yang tersundut rokok hingga dikenal dengan cacar api), berisi nanah yang mudah pecah. Cacar api sangat mudah menular dan berpindah dari satu bagian kulit ke bagian lain. Jika terjadi pada bayi baru lahir, infeksi dapat menyebar ke seluruh tubuh melalui aliran darah. Kelainan ini dapat disertai demam dan menimbulkan infeksi serius.

2. Folikulitis
Infeksi ini mengenai folikel rambut. Ciri-cirinya berupa bintil padat atau bintil bernanah yang kemerahan dengan rambut di tengahnya. Biasanya sering ditemukan pada tungkai bawah.

3. Furunkel atau Bisul
Adalah radang pada folikel yang meluas ke jaringan di sekitar folikel rambut. Ciri-cirinya, yaitu di kulit akan terlihat benjolan kemerahan dengan mata di bagian tengah yang dapat melunak menjadi abses. Kelainan terutama terjadi di daerah yang sering mengalami gesekan dan banyak berkeringat seperti ketiak, bokong, leher, dada, dan paha. Biasanya terdapat keluhan rasa nyeri, apalagi bila kelainan terjadi di dasar yang keras misalnya di hidung atau liang telinga luar.

4. Abses Multipel Kelenjar Keringat
Merupakan infeksi di kelenjar keringat. Faktor predisposisinya yaitu daya tahan tubuh yang menurun dan banyak berkeringat. Kelainan ditandai benjolan seperti kubah di daerah yang banyak berkeringat seperti dada, punggung atas, kepala bagian belakang, bokong, dan lainnya.

5. Erisipelas dan Selulitis
Erispelas adalah infeksi pada kulit yang umumnya didahului oleh luka atau trauma, baik nyata maupun mikroskopis. Pada bayi umumnya terjadi di pusar. Ciri-cirinya, yaitu di kulit terlihat kemerahan berbatas tegas, disertai gejala berupa demam dan kelesuan. Sementara selulitis merupakan kelanjutan erisipelas. Bedanya, pada selulitis, radang meluas sampai ke jaringan di bawah kulit.

6. Staphylococcal scalded skin syndrome
Merupakan infeksi kulit oleh staphylococcus aureus galur tertentu dengan ciri yang khas berupa epidermolisis. Pada umumnya terdapat demam tinggi disertai infeksi di saluran napas bagian atas. Kelainan kulit awalnya berupa eritema yang timbul mendadak pada muka, leher ketiak telapak tangan dan kaki serta lipat paha, kemudian menyeluruh dalam waktu 24-48 jam.

Infeksi Virus
Penyakit kulit yang termasuk infeksi virus yaitu:

1. Cacar Air
Disebabkan Varicella Zoster Virus (VZV). Cacar air berbeda dengan cacar atau infeksi kulit yang disebabkan virus variola. Cacar air ditularkan melalui udara atau berpindahnya isi cairan. Jika masih stadium lenting-lenting isi air, harus dijaga agar lenting-lenting itu tidak pecah. Karena, bila tidak pecah dan diberi obat yang baik, maka akan direabsorbsi oleh tubuh hingga tidak meninggalkan bekas.

Bayi/anak yang pernah terinfeksi VZV akan mengalami kekebalan tetapi kekebalan ini sifatnya hanya sebagian. Jadi, suatu saat bayi/anak dapat terinfeksi VZV lagi. Pada infeksi pertama, VZV menyebar melalui aliran darah dan saat penyembuhan virus akan berdiam di simpul saraf.

Jika suatu saat bayi/anak tersebut berkontak lagi dengan VZV dan kebetulan kondisi tubuhnya sedang menurun, dapat terjadi infeksi Herpes Zoster (cacar ular). Pada keadaan ini, terjadi reaktivasi VZV dan virus akan keluar dari tempat persembunyian, lalu menyebar mengikuti persarafan kulit yang terkena.

2. Moluskum Kontagiosum (MK)
Penyakit kulit ini cirinya mirip kutil, namun pada Moluskum Kontagiosum permukaan kulit terasa halus, berbeda dengan kutil yang kasar. Isinya seperti jerawat batu tapi lebih gendut, dengan bagian tengah berbentuk agak cekung.

Biasanya Moluskum Kontagiosum sulit diketahui awam, bahkan dokter umum pun kadang salah menganalisa. Moluskum Kontagiosum sangat infeksius, jika ada satu, lalu si kecil garuk-garuk, akan menyebar ke mana-mana.

Cara mencegahnya cukup dengan menjaga higiene kulit dan mencegah kontak dengan penderita.

1. Noninfeksius
Noninfeksius berupa kelainan akibat gangguan hormonal, gangguan pigmentasi, kelainan yang didasari alergi-imunologi dan tumor kulit, serta kelainan sistemik yang disertai gejala kulit.

2. Eksim Popok
Eksim popok adalah kelainan kulit yang timbul akibat radang di daerah tertutup popok. Penyakit ini umumnya timbul pada lipatan-lipatan kulit paha, di antara kedua pantat, dan dapat timbul di bagian kulit lain.
Bagian yang tertutup popok mudah mengalami peradangan karena kulit menjadi hangat dan lembab, peka terhadap bakteri serta senyawa yang dapat mengiritasinya.
Eksim popok juga dapat muncul karena adanya zat-zat tajam, yang biasanya ada di dalam feces bayi, yang menimbulkan peradangan di sekitar anus. Bercak ini umumnya terjadi bila si bayi diare.

3. Dermatitis Atopik
Dermatitis atopik dapat disebut juga eksema konstitusional, aksema fleksural, neurodermatitis diseminata, prurigo besnier. Penyebabnya yaitu terdapat stigmata atopi (herediter) pada bayi berupa rinitis alergi, asma bronkial, hay fever, alergi terhadap berbagai alergan protein, reaksi abnormal terhadap perubahan suhu dan ketegangan.
Penyakit ini biasanya sangat gatal, kulit terlihat kemerahan dan terdapat gelembung-gelembung kecil berisi cairan jernih. Bila pecah akan tampak basah kemudian mengering dan menjadi koreng kekuningan atau kehitaman. Eksim ini terdapat pada kulit daerah tertentu sesuai dengan usia anak. Misalnya pada bayi banyak ditemukan di daerah pipi yang berkontak dengan payudara, secara salah sering disebut eksema susu, sedangkan pada anak di daerah lekukan lengan dan kedua lekukan lutut. Di luar daerah tersebut kulitnya kering dan bersisik.

4. Biang Keringat
Biang keringat merupakan keluhan umum yang sering ditemukan pada bayi dan balita. Biang keringat timbul di daerah dahi, leher, dan bagian tubuh yang tertutup pakaian. Gejalanya yaitu rasa gatal, dapat disertai kulit kemerahan dan gelembung berair kecil-kecil. Penyakit ini biasa kambuh berulang, terutama bila udara panas dan berkeringat.

1. Definisi
Penyakit kulit adalah suatu penyakit yang berhubungan dengan jaringan penutup permukaan tubuh, seperti kulit yang sering terjadi dan bersifat relatif ringan. Meskipun bersifat relatif ringan, apabila tidak ditangani secara serius, maka hal tersebut dapat memperburuk kondisi kesehatan bayi dan anak.

2. Epidemiologi
Penyakit kulit terdapat di seluruh dunia dan dapat menyerang baik laki-laki dan perempuan. Pada beberapa penyakit kulit seperti staphylococcal scalded skin syndrome, laki-laki lebih banyak terserang daripada wanita.

3. Penyebab
Penyebab penyakit kulit, yaitu bakteri (kuman gram positif staphyllococcus, streptococcus β hemolyticus grup A), virus (Varicella Zoster Virus (VZV)), jamur (dematormikosis, kandidosis) dan infestasi oleh parasit.
Selain itu gangguan hormonal, gangguan pigmentasi, kelainan yang didasari alergi-imunologi dan tumor kulit, serta kelainan sistemik yang disertai gejala kulit dapat menyebabkan terjadinya penyakit kulit tersebut. Penyebabnya bisa juga karena higiene kulit bayi kurang terawat.

4. Patofisiologi
Higiene yang kurang dan menurunnya daya tahan tubuh menyebabkan bakteri, virus, jamur dan parasit mudah masuk ke dalam tubuh. Pada penyakit kulit yang disebabkan oleh bakteri dan virus, infeksi dapat menyebar ke seluruh tubuh melalui aliran darah. Sedangkan pada penyakit kulit akibat infestasi parasit seperti sarcoptes scabiei yang hidup dirambut dan bertelur disana.
Siklus hidupnya melalui stadium telur, larva, nimfa dan dewasa. Kelainan kulit yang timbul akibat dari garukan gatal akibat sensitisasai terhadap sekret dan ekskret sarcoptes kurang lebih sebulan setelah infestasi. Pada saat itu kelainan kulit menyerupai dermatitis dengan ditemukannya papul, vesikel, urtika, dll. Gerukan dapat menimbulkan erosi, ekskoriasi, krusta dan infeksi sekunder.

Imunisasi

Banyak hal yang mempengaruhi kesehatan bayi. Selain konsumsi makanan dan minuman yang penuh nutrisi yang baik akan perkembangan gizi, istirahat, dan cukup mendapatkan kasih sayang, bayi juga membutuhkan imunisasi yang dapat melindungi bayi dari penyakit-penyakit berbahaya.

Imunisasi yang diberikan kepada bayi dapat membentuk sistem kekebalan tubuh yang dapat melindungi bayi hingga nanti tumbuh dewasa. Pemberian imunisasi biasa diadakan di Rumah Sakit bagian anak atau Posyandu yang diselenggarakan oleh kelompok ibu-ibu rumah tangga di puskesmas-puskesmas terdekat. Seorang ibu harus memperhatikan jadwal-jadwal pemberian imunisasi dan pada umur berapa imunisasi tersebut diberikan pada bayi. Informasi mengenai imunisasi dapat diperoleh di Puskesmas dan Rumah Sakit terdekat. Bayi yang baru lahir hingga berumur 1 minggu harus mendapatkan imunisasi BCG sesegera mungkin untuk menghindari tertularnya penyakit TBC. Sedangkan bayi yang berumur 3 bulan memperoleh imunisasi polio 1, 2, dan 3 dan diberikan dengan jarak masing-masing 1 minggu. Imunisasi polio diberikan bersamaan dengan DPT yang dapat melindungi bayi dari penyakit Tetanus. Menginjak usia 9 bulan, bayi harus diimunisasi campak.

Imunisasi ini berguna sebagai pencegah bayi terkena penyakit cacar berulang, artinya deengan diimunisasi campak, seorang bayi hanya akan terkena penyakit cacar sekali seumur hidupnya. Saat bayi berumur 1 tahun, semua imunisasi tersebut diulang kembali sekali lagi dengan jarak pemberian sama persis seperti sebelumnya. Pemberian imunisasi pada bayi juga harus didukung dengan peningkatan gizi makanan sehingga daya tahan dan sistim kekebalan tubuh bayi sangat kuat. Satu hal lagi yang perlu diperhatikan adalah timbulnya demam pada bayi yang baru saja diimunisasi. Ibu tak perlu kuatir tentang hal ini, cukup berikan obat penurun panas sesuai dengan anjuran dokter atau kompres hingga demam bayi anda turun. Bila panas tidak turun dalam 3 hari, barulah bawa bayi anda ke dokter atau rumah sakit terdekat. Posyandu dan rumah sakit poli anak biasanya juga memberikan layanan pantauan kesehatan bayi anda saat mengadakan imunisasi. Pemantauan tersebut berdasarkan berat badan dan panjang bayi yang tertulis dalam grafik hijau di Kartu Menuju Sehat (KMS).

Anda dapat mendiskusikan masalah dan juga mendapatkan informasi serta solusi untuk mengatasi permasalahan yang timbul. Kartu Menuju Sehat ini digunakan untuk memantau bayi dari lahir hingga berumur 5 tahun.

Penyakit yang umum pada bayi dan penanganannya.
Sama seperti manusia dewasa, bayi juga bisa terkena sakit. Seorang ibu harus dapat mengenali ciri-ciri penyakit yang sering diderita bayi karena bayi tidak dapat memberitahu apa yang dirasakannya. Biasanya bila merasakan sakit, bayi akan menangis lebih sering dan rewel serta tidak mau makan. Tak perlu panik, coba periksa dulu apakah bayi menderita penyakit ringan seperti di bawah ini. Penyakit yang sering diderita oleh bayi adalah masuk angin. Hal ini bisa terjadi karena bayi terlalu lama diletakkan di lantai atau terlalu lama terkena angin di luar ruangan. Selain sering menangis, ciri-ciri yang gampang dikenali adalah perut yang kembung.

Berilah obat gosok seperti minyak telon supaya bayi merasa hangat dan angin di dalam tubuh bayi cepat keluar. Berikan pakaian yang hangat dan nyaman dan selimut yang tebalnya cukup supaya bayi tidak lagi masuk angin.

Bayi juga sering terkena gatal-gatal dan biang keringat. Hal ini sebenarnya sangat wajar karena kita tinggal di negara yang beriklim tropis. Namun bila hal itu terjadi terlalu sering, anda harus lebih memperhatikan kebersihan baik kulit ataupun baju bayi anda karena biang keringat muncul karena bayi sering dibiarkan dalam keadaan basah. Kulit bayi yang terkena susu juga harus dilap sesegera mungkin. Untuk menghilangkan biang keringat yang muncul anda dapat menaburkan bedak gatal ke area biang keringat terus menerus hingga biang keringat tersebut hilang. Mandikan juga bayi 2 kali sehari untuk menjaga kebersihannya, namun jangan terlalu sering karena bayi dapat terkena masuk angin. Ganti juga popok yang basah dan jangan dibiarkan terlalu lama. Selain dapat menyebabkan gatal, popok basah juga dapat menyebabkan infeksi pada kulit bayi.

Demam juga merupakan penyakit yang sering diderita oleh bayi. Banyak sekali penyebab demam dan ibu harus dapat mengenali karakteristik demam tertentu. Bayi yang menderita demam setelah diimunisasi cukup diberi obat penurun panas atau cukup dikompres. Biasanya demam akan hilang setelah 1 atau 2 hari. Demam juga dapat muncul pada saat pergantian cuaca. Perubahan suhu yang terlalu mendadak menyebabkan tubuh bayi meresponnya dengan meningkatkan suhu tubuhnya. Demam ini suhunya biasanya tidak terlalu tinggi dan akan hilang dalam 1-2 hari bila ibu segera merespon demam pada bayi dengan tindakan yang tepat seperti menghangatkan bayi dan mengompresnya.

Cara mengompres bayi yang demam dapat dilakukan dengan meletakkan kain basah yang sudah direndam dengan air dingin pada kening bayi dan kain basah yang direndam air hangat pada kaki bayi. Demam juga dapat muncul bila bayi anda keracunan makanan.
Waspadai jika panas bayi tidak turun dalam 1-2 hari terutama bila bayi kejang-kejang. Segeralah bawa ke rumah sakit atau dokter anak terdekat untuk pertolongan medis terhadap bayi anda. Konsultasikan pula ke dokter bila bayi anda tidak mau makan. Jangan sampai terlambat mengenali ciri-ciri penyakit yang diderita oleh bayi.
NewerStories OlderStories Beranda